Investasi Masa Depan: Kripto, AI, dan Ekonomi Indonesia Bersama Bang Sandi dan Timothy Ronald

Investasi Masa Depan: Kripto, AI, dan Ekonomi Indonesia Bersama Bang Sandi dan Timothy Ronald
Investasi Masa Depan: Kripto, AI, dan Ekonomi Indonesia Bersama Bang Sandi dan Tim

Apa yang bisa kita pelajari dari obrolan santai namun penuh wawasan antara Bang Sandi—pengusaha senior dan eks-menteri—and Tim, seorang investor muda yang kini jadi “guru kripto”? Dalam podcast berdurasi satu jam lebih ini, mereka membahas lanskap ekonomi Indonesia, peluang investasi di pasar modal, hingga masa depan teknologi seperti kripto dan AI. Artikel ini merangkum inti diskusi mereka, ditambah analisis untuk investor dan masyarakat awam. Yuk, simak!

Ekonomi Indonesia: Masih Bertumpu pada SDA?

Bang Sandi, yang kembali aktif di dunia usaha setelah selesai tugas pemerintahan pada Oktober 2024, melihat ekonomi Indonesia belum banyak berubah dalam 10 tahun terakhir. Kita masih mengandalkan sumber daya alam (SDA) seperti batubara, sawit, dan nikel. “Potensinya besar, tapi nilai tambahnya belum maksimal,” katanya. Ia optimistis, tapi Tim menyinggung risiko: negara yang terlalu bergantung pada SDA rawan dikuasai “preman,” bukan inovator.

Contohnya? Perusahaan seperti Adaro—dulu bagian dari portofolio Bang Sandi—kini memisahkan bisnis thermal coal dan renewable energy. Ini cerdas, kata Bang Sandi, karena menciptakan “hope” (harapan) di mata investor, sekaligus menjawab tren global ke energi hijau. Tapi, Tim membandingkan dengan AS: “Di sana, market cap terbesar dari teknologi seperti Meta dan Google, bukan Chevron. Indonesia masih energi nomor satu.”

Pelajaran: Indonesia perlu akselerasi transformasi dari SDA ke sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Bang Sandi setuju, tapi menekankan pendekatan “hybrid”: tak tinggalkan SDA, tapi dorong energi baru terbarukan (EBT) bersamaan.

Pasar Modal Indonesia: Mengapa Investor Asing Pesimistis?

Tim blak-blakan: “Equity lokal kita performanya terburuk di dunia, bahkan kalah dari Nigeria.” Bang Sandi mengiyakan, ini bukan masalah baru. Dalam 5-10 tahun, perusahaan “investable” di Bursa Efek Indonesia (BEI) makin sedikit. Bank besar seperti BCA memang proxy ekonomi, tapi dalam USD, kenaikan nilai sahamnya cuma 3,9 kali sejak awal—kalah jauh dari S&P 500.

Kenapa? Public float kecil, dikuasai “friends and family,” dan likuiditas rendah. Bang Sandi mencontohkan India: mereka sukses tingkatkan trading volume lewat insentif fiskal. Ia menyarankan regulator—OJK, BI, dan pemerintah—duduk bersama pelaku pasar untuk “reverse trend” ini. “Jumlah investor lokal melonjak ke 10 juta lebih post-Covid, tapi yang aktif tinggal sedikit,” tambahnya.

Tim punya pengamatan unik: inflasi riil di lapangan (13-15% berdasarkan harga beras yang ia catat tiap Jumat) jauh di atas angka resmi (3-4%). “Dalam 3 tahun, nilai rupiah sisa setengah,” katanya. Ini mendorongnya beralih ke global market dan kripto. Bang Sandi setuju: “Depresiasi rupiah dan inflasi bikin net asset value jebol dibanding luar negeri.”

Kripto: Aset Baru atau Properti Digital?

Tim adalah penggemar berat Bitcoin, dipicu pertemuannya dengan CZ (pendiri Binance). Ia membagi kripto jadi tiga “bucket”:

  1. Currency: Stablecoin seperti USDT dan USDC, untuk pembayaran lintas batas.
  2. Equity: Altcoin seperti Ethereum dan Solana, mirip saham dengan founder jelas.
  3. Property: Bitcoin, aset langka (21 juta koin) tanpa pengendali, ibarat “Manhattan digital.”

“Bitcoin itu properti yang bisa dipretel dan dipindah kapan saja,” jelas Tim. Ia cerita soal Turki: di tengah hiperinflasi lira, warga beralih ke Bitcoin untuk transaksi sehari-hari hingga properti. Bang Sandi, yang awalnya “zero crypto exposure,” kini penasaran. “AS masukin Bitcoin ke strategic reserve. Ini fundamental change,” katanya, ingin belajar lebih dalam.

Tim prediksi: Bitcoin (kini $1,6 triliun) bisa capai $20 triliun dalam 5 tahun, berkat kelangkaan dan demand tak terbatas. IRR 15 tahun terakhir? 108% per tahun. “Saya bagi tiga jadi 30% ekspektasi tahunan. Kalah dari itu, saya enggak invest,” tegasnya.

AI dan Masa Depan Pekerjaan

AI jadi topik panas. Tim, yang kini kelola Ronald Capital dengan 15 karyawan (dari 150 berkat AI), khawatir: “Dengan 280 juta penduduk, kalau humanoid robot murah, labor tak dibutuhkan lagi.” Bang Sandi optimistis: “AI akan tingkatkan kesejahteraan net-net.” Ia bayangkan skenario universal basic income (UBI) jika produktivitas negara melonjak.

Tapi, ia tekankan investasi SDM tetap kunci. “Pendidikan dan kesehatan harus ditingkatkan. AI jangka menengah-panjang, tapi manusia harus siap,” katanya. Tim setuju, tapi lihat risiko distopia: “Ada golongan yang tak lagi dibutuhkan, bukan cuma miskin.”

Filantropi: Berbagi atau Inovasi?

Tim cerita soal proyek filantropinya: bangun sekolah untuk 400 murid di NTT, Lombok, dan Blitar, plus bagi beras. Tapi ia ragu: “Apakah ini net positif, atau lebih baik ikut Elon Musk ke AI dan space exploration?” Bang Sandi jawab: “Filantropi itu untuk sense of purpose diri sendiri.”

Ia bagi dua: (1) penuhi kebutuhan harian (contoh: ajarkan emak-emak UMKM pakai AI dan fintech), (2) dorong inovasi skala besar (seperti solar farm murah untuk Indonesia Timur). “Elon Musk pikir 200 tahun ke depan. Kita juga harus push humanity forward,” tambahnya.

Strategi Investasi: Apa Pilihan Kita?

Bang Sandi fokus tiga kluster: growth (investasi besar), venture builder (skala perusahaan menengah), dan impact (dampak sosial). Ia suka USD-denominated bonds untuk kupon stabil, sambil kurangi risiko volatilitas. Tim? “S&P 500 atau Bitcoin. Bons Indo itu suicide,” katanya, pesimis pada aset lokal.

Untuk unlock value bisnis (contoh: Holy Wings), Bang Sandi soroti tiga hal: (1) top-line revenue via ekspansi, (2) cost efficiency via teknologi, (3) hope via inovasi dan visi masa depan. Tim tambah: “Bitcoin itu cash flow-nya nol, tapi value-nya dari scarcity.”

Kesimpulan: Masa Depan di Tangan Kita

Diskusi ini tunjukkan dua perspektif: Bang Sandi optimis pada potensi Indonesia dengan governance kuat, sementara Tim lari ke aset global dan kripto akibat inflasi riil dan pasar lokal yang lelet. Kripto, AI, dan EBT jadi peluang besar—tapi tantangannya adalah SDM dan regulasi. Anda pilih mana: bertahan di rupiah, atau ikut Tim ke “Manhattan digital”?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *