Bank sentral tak hanya memikirkan blockchain untuk sistem pembayaran atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Mereka juga terinspirasi oleh inovasi seperti stable value tokens dan eksperimen uang digital di berbagai negara. Dalam kuliah MIT Part 2 oleh Gary Gensler, kita diajak menyelami bagaimana bank sentral menanggapi tantangan uang fiat di era digital. Apa itu stable value tokens? Bagaimana negara-negara seperti Ekuador dan Swedia bereksperimen dengan uang digital? Mari kita bahas!
Bank Sentral: Penjaga Uang Fiat dan Tantangan Digital
Bank sentral telah jadi tulang punggung uang fiat selama 300-400 tahun—mengelola pasokan, harga (suku bunga), dan sistem pembayaran. Mereka juga mengawasi bank komersial yang “memperluas uang” melalui kredit, menjaga stabilitas harga, dan mendukung ekonomi. Di AS, misalnya, Federal Reserve punya mandat ganda: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimal sejak 1977. Namun, era digital membawa tantangan baru—blockchain dan kripto seperti Bitcoin mulai menggoyang cara lama.
Tiga bentuk uang fiat yang dikelola bank sentral adalah: tunai ($1,8 triliun di AS, kebanyakan $100), cadangan bank sentral (untuk bank komersial), dan deposito bank (yang kita gunakan sehari-hari di Starbucks). Pertanyaannya: bisakah blockchain atau kripto mengubah peran bank sentral ini?
Stable Value Tokens: Jembatan Kripto dan Fiat
Stable value tokens adalah aset kripto yang dirancang stabil—biasanya dipatok ke dolar AS atau mata uang fiat lain—untuk mengatasi volatilitas Bitcoin. Dalam kuliah MIT, Gensler menyebutkan empat pendekatan desainnya:
- Fiat Collateralized: Seperti Tether (USDT), didukung dolar di bank.
- Crypto Collateralized: Didukung aset kripto lain, misalnya MakerDAO.
- Non-Collateralized: Menggunakan algoritma untuk stabilitas, seperti Basis.
- Hybrid: Kombinasi pendekatan di atas.
Mengapa ada? Pertama, untuk trading kripto: pedagang ingin berpindah antar-kripto tanpa ke fiat, menghindari pajak atau pelacakan KYC/AML (Know Your Customer/Anti-Money Laundering). Kedua, pembayaran lintas batas: lebih cepat dan murah, dari hari jadi detik. Ketiga, stabilitas: jadi penyimpan nilai yang lebih baik ketimbang Bitcoin liar.
Tapi ada paradoks: token ini sering tersentralisasi (misalnya, Gemini bisa membekukan token via smart contract), bertentangan dengan semangat desentralisasi Satoshi Nakamoto. Jika besar—katakan $1 triliun—di mana kolateralnya disimpan? Tunai, deposito, atau cadangan bank sentral? Ini mendorong bank sentral memikirkan CBDC.
CBDC: Eksperimen Dunia Nyata
Bank sentral bereksperimen dengan CBDC untuk menjawab tantangan digital. Gensler menyoroti empat negara:
- Ekuador: Gagal total. Diluncurkan 2014 setelah default utang, “Dinero Electrónico” tak dipercaya publik. Hanya 5.000 pengguna dari target 500.000, biaya $7 juta, untung kurang $1 juta. Bank tak wajib menggunakannya, dan motifnya lebih ke monopoli profit, bukan inklusi.
- Filipina: Uji coba “digital fiat” via eCurrency Mint (Irlandia). Bukan blockchain, tapi ingin tingkatkan inklusi finansial. Belum ada hasil besar, tapi diamati bank sentral lain.
- Senegal: Dalam blok 14 negara Afrika Barat (CFA Franc), e-CFA diterbitkan bank komersial, bukan bank sentral, di bawah “regulatory sandbox”. Tujuannya inklusi, tapi bukan blockchain meski sering dikaitkan.
- Swedia: Paling menjanjikan. Tunai (krona) tinggal 2% PDB, banyak toko tolak. Riksbank rencanakan e-krona: traceable, berbunga, dan risk-free, menjaga peran bank sentral di pembayaran publik.
Tantangan utama CBDC? Stabilitas finansial (risiko bank run) dan alokasi kredit (jika deposito ke bank sentral, siapa yang pinjamkan ke bisnis?). Swedia mungkin jadi pelopor, tapi negara bermasalah seperti Venezuela (Petro, didukung minyak) atau Iran (anti-sanksi) juga coba.
Bank Sentral vs. Kripto: Masa Depan Fleksibilitas
Jika Bitcoin jadi mata uang utama, bagaimana bank sentral menangani krisis? Operasi pasar terbuka (beli/jual uang untuk atur suku bunga) sulit, karena Bitcoin terbatas dan global—tak seperti krona yang hanya milik Swedia. Contoh “kimchi premium” di Korea (Bitcoin lebih mahal karena kontrol modal) tunjukkan sulitnya atur harga lokal. Fleksibilitas bank sentral turun, kecuali ada “fork” atau konsensus baru—tapi itu jarang.
Stable value tokens juga punya paralel sejarah: banknotes swasta abad 19 AS (era “free banking”) mirip Tether—diterbitkan bank, tak selalu stabil. Kini, di Hong Kong (HSBC, Bank of China) dan Skotlandia, banknotes swasta masih ada, tapi diatur ketat bank sentral.
Indonesia: Digital Rupiah dan Pelajaran Global
Bank Indonesia (BI) menargetkan Digital Rupiah 2025, fokus inklusi finansial di negara 70% transaksi tunai. Pelajaran dari Swedia: pastikan akses publik dan stabilitas bank. Dari Ekuador: butuh kepercayaan publik. Stable value tokens bisa jadi inspirasi, tapi BI kemungkinan tak pakai blockchain murni—mungkin database biasa dulu, seperti Senegal.
Bagi investor, CBDC berarti transaksi cepat, tapi waspadai dampak kredit jangka panjang. Kripto swasta? Volatilitas dan regulasi jadi kunci.
Kesimpulan: Inspirasi Blockchain Tanpa Blockchain
Blockchain tak selalu jadi teknologi di balik CBDC, tapi jelas jadi katalis perubahan, seperti kata Gensler. Stable value tokens dan eksperimen CBDC tunjukkan bank sentral tak anti-kripto—mereka belajar darinya. Prediksi: dalam 5-10 tahun, negara seperti Swedia atau bahkan Indonesia bisa punya uang digital resmi. Pertanyaannya: apakah kita siap beralih dari dompet fisik ke dompet digital sepenuhnya?