Blockchain dan Bank Sentral: Masa Depan Uang Digital di Tangan CBDC

Blockchain dan Bank Sentral: Masa Depan Uang Digital di Tangan CBDC
Blockchain dan Bank Sentral: Masa Depan Uang Digital di Tangan CBDC

Blockchain bukan lagi sekadar teknologi di balik Bitcoin. Kini, bank sentral di seluruh dunia mulai meliriknya untuk merevolusi sistem keuangan, dari pembayaran hingga uang digital. Dalam kuliah MIT yang dipandu Gary Gensler, kita diajak melihat bagaimana bank sentral memikirkan blockchain dan Central Bank Digital Currency (CBDC). Apa itu CBDC, bagaimana blockchain mendukungnya, dan apa dampaknya bagi ekonomi global? Artikel ini akan mengupasnya secara mendalam!

Apa Itu Bank Sentral dan Peran Uang Fiat?

Bank sentral, seperti Bank Indonesia atau Federal Reserve, adalah jantung sistem keuangan. Mereka mengeluarkan uang fiat—uang yang nilainya ditetapkan oleh kepercayaan, bukan emas. Menurut Gary Gensler, uang fiat punya tiga fungsi utama: alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai. Di AS, misalnya, ada $1,6 triliun uang tunai (8% PDB) dan $13 triliun dalam bentuk deposito bank—semuanya digital kecuali tunai.

Bank sentral mengatur suplai uang (melalui tunai dan cadangan) dan harga uang (suku bunga). Mereka juga menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja, seperti mandat ganda Federal Reserve sejak 1977. Namun, era digital menantang cara lama ini. Blockchain muncul sebagai solusi potensial—tapi bagaimana?

Blockchain: Inspirasi Baru untuk Bank Sentral

Blockchain, teknologi buku besar terdistribusi, menawarkan cara baru untuk mencatat transaksi—tanpa perantara, aman, dan transparan. Dalam kuliah MIT, Robleh Ali, mantan ahli digital Bank of England, menjelaskan bahwa bank sentral kini mengeksplorasi blockchain untuk dua hal besar: sistem pembayaran dan CBDC. Ini bukan soal mengganti uang fiat, tapi membuatnya lebih efisien.

Menurut laporan Bank for International Settlements (BIS) 2023, 93% bank sentral global sedang meneliti CBDC. Mengapa? Karena blockchain bisa menekan biaya verifikasi dan jaringan, dua elemen kunci dalam ekonomi uang, seperti kata Gensler. Tapi, apakah blockchain wajib untuk CBDC? Tidak—dan itulah poin menariknya.

Empat Pendekatan Bank Sentral terhadap Blockchain

Gensler membagi pendekatan bank sentral terhadap blockchain menjadi empat kategori:

  1. Monitor dan Studi: Seperti Federal Reserve dan ECB, mereka mempelajari tanpa komitmen langsung.
  2. Restriksi: People’s Bank of China membatasi kripto swasta sambil meneliti CBDC sendiri.
  3. Eksperimen Sistem Pembayaran: Negara seperti Singapura (Project Ubin) dan Kanada (Project Jasper) menguji blockchain untuk pembayaran antarbank.
  4. CBDC: Inisiatif uang digital langsung dari bank sentral, seperti e-krona Swedia.

Ini menunjukkan bank sentral tidak anti-blockchain, tapi juga tidak langsung mengadopsinya. Mereka ingin bukti nyata sebelum melangkah.

Sistem Pembayaran: Uji Coba Blockchain di Dunia Nyata

Sistem pembayaran saat ini, seperti Fedwire atau RTGS (Real-Time Gross Settlement), sering lambat dan mahal. Blockchain menjanjikan solusi. Singapura, misalnya, menguji Corda, Hyperledger Fabric, dan Quorum untuk pembayaran antarbank. Hasilnya? Transaksi selesai dalam detik, dengan enam kriteria sukses: digitalisasi, desentralisasi, antrean pembayaran, dan lainnya.

Laporan Monetary Authority of Singapore (MAS) 2023 menyebutkan bahwa blockchain bisa mengurangi risiko “single point of failure” dengan mendistribusikan data ke 11 bank. Tapi, Ali memperingatkan: jika bank sentral terlalu dominan (misalnya dengan “special node”), manfaat desentralisasi hilang. Ini jadi tantangan besar.

CBDC: Uang Digital Langsung dari Bank Sentral

CBDC adalah uang digital yang diterbitkan bank sentral, bisa untuk publik (retail) atau antarbank (wholesale). Berbeda dengan Bitcoin, CBDC tetap fiat—nilainya dijamin oleh bank sentral, bukan jaringan miner. Swedia, dengan hanya 2% PDB dalam bentuk tunai, sedang menjajaki e-krona karena tunai hampir punah di sana.

Desain CBDC punya banyak opsi:

  • Token vs Akun: Token (seperti uang tunai) lebih anonim, akun (seperti deposito) terdaftar.
  • Bunga atau Tanpa Bunga: Swedia ingin CBDC berbunga untuk kebijakan moneter fleksibel.
  • Akses: Hanya bank atau publik luas?

Laporan BIS “Money Flower” (Garratt, 2018) memetakan ini: CBDC bisa digital, diterbitkan bank sentral, dan token-based—tapi tidak harus pakai blockchain.

Peluang dan Tantangan CBDC

Peluang:

  • Meningkatkan inklusi finansial—orang tanpa rekening bank bisa pakai CBDC.
  • Mempercepat pembayaran lintas batas.
  • Mengatasi sanksi, seperti Venezuela dan Iran.

Tantangan:

  • Alokasi Kredit: Jika deposito bank turun, bagaimana bisnis didanai? Ali dan Broadbent (2016) menyoroti ini.
  • Krisis: Simon Johnson (MIT) khawatir orang akan lari ke CBDC saat bank bermasalah, mengacaukannya kredit.
  • Privasi: Token lebih anonim, tapi akun rentan disalahgunakan pemerintah.

Contoh Nyata: Dari Uruguay hingga Tunisia

Uruguay sudah menguji CBDC langsung di toko-toko pada 2017-2018, meski proyeknya terhenti. Tunisia masih menjalankan e-dinar, jadi pilot hidup. Sementara itu, Riksbank Swedia merencanakan e-krona dalam 2-3 tahun ke depan (Riksbank, 2024). Ali prediksi: dalam dua tahun, kita akan lihat CBDC nyata pertama.

Masa Depan: Kapan Indonesia Bergerak?

Bank Indonesia (BI) sedang mengembangkan Digital Rupiah, menargetkan peluncuran prototipe pada 2025 (BI, 2024). Dengan 70% transaksi di Indonesia masih tunai, blockchain bisa jadi jembatan ke ekonomi digital. Tapi, BI harus belajar dari Singapura dan Swedia: efisiensi tanpa mengorbankan stabilitas bank.

Bagi investor, CBDC bisa jadi peluang—bayangkan transaksi instan dan biaya rendah. Tapi, waspada risiko kredit jangka panjang.

Kesimpulan: Blockchain sebagai Katalis

Blockchain bukan sekadar tren—ia katalis perubahan, seperti dikatakan Gensler dalam Geneva Report (2018). Bank sentral tak akan tergantikan Bitcoin, tapi mereka belajar darinya. CBDC dan sistem pembayaran berbasis blockchain bisa jadi masa depan uang—lebih cepat, inklusif, dan tangguh. Pertanyaannya: siapkah kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *